[Cerpen] Kukira Kita Teman

08:36

image source: weheartit
Aku agak kaget saat tadi siang tiba-tiba kamu menelponku dan minta bertemu. Kamu masih ingat sahabat lamamu ini ternyata. Semenjak kamu jadian sama dia, kita lama sekali nggak main bareng kan?

Oke, kita bertemu di tempat biasa. Sebuah coffe shop yang seakan sudah jadi saksi pahit manis persahabatan kita. Sejak SMA, dua tahun yang lalu, kita berlima sering sekali membolos sekolah dan pergi kesini, ingat? Dulu, semua guru, teman, bahkan penjaga sekolah membenci kita berlima karnanya. Kita berlima memang terkenal sebagai cewek-cewek paling gaul sejagat. Ah, masa-masa menyenangkan itu, kamu tau aku tidak akan menyesalinya.

Sayangnya, dari lima kini tinggal dua. Tinggal kita. Kemana mereka bertiga ya sekarang? Dulu kita selalu pergi berlima. Kemana-mana pergi bersama. Makan bersama, main bersama, dosa bersama, sedih & senang pun bersama. Sayang, sekarang kita semua sudah berpencar dan tinggal kita berdua yang masih tinggal di satu kota.



Eh, kapan terakhir kita bertemu? Coba kuingat-ingat. Sepertinya itu .... lima bulan yang lalu? Ah terasa sudah sangat lama. Lima bulan yang lalu kita berdua disini. Setelah seharian kita belanja barang-barang cewek bersama--make up, aksesoris, dan sebangsanya. Kita berdua menghabiskan sisa waktu di coffeshop ini. Mengobrolkan obrolan yang tak habis-habis tentang masa SMA, dan juga impian masa depan kita.

Kalau tidak salah ..... lima bulan yang lalu kita berdua kesini dalam rangka merayakan hari jadi kalian berdua ya? Kamu dan pacarmu itu. Apa kabar dia sekarang? Aku masih ingat, waktu itu kamu cerita tentang dia dengan bangganya. Kamu bilang dia tampan dan kaya, juga baik dan setia.

Aku iri sekali waktu itu. Bukan, bukan karena tidak ada laki-laki yang mau sama aku. Aku cuma tidak siap lagi dibohongi laki-laki. Kamu ingat kan, waktu SMA aku ditinggal laki-laki yang--sudah terlanjur--aku sayang dan dia pergi buat cewek lain? Haha kamu selalu marah padaku kalau aku membahas hal itu lagi. Kamulah yang paling ngotot menyuruhku melupakannya.

Eh, kamu sudah datang! Kenapa lama sekali? Dan.... kok matamu sembab begitu? Jangan bilang ini karena laki-laki ya!

Begitu datang, kamu langsung duduk di sebelahku. Aku berkata 'hai' tapi kamu langsung memelukku. Kamu bilang kangen, tapi kemudian kamu langsung terisak sambil bercerita di tengah-tengah isakanmu.

Duh, ternyata benar tentang laki-laki. Dia yang dulu kamu bangga-banggakan itu ternyata selingkuh. Atau setidaknya begitulah yang kamu kira, karena kamu belum bisa membuktikannya. Tapi kamu bercerita dengan yakin sekali kalau laki-laki itu selingkuh.

Akhir-akhir ini dia berubah, katamu. Dia tidak lagi menelponmu setiap malam, membalas smsmu dengan sangat singkat, berubah menjadi pemarah, dan sebagainya dan sebagainya. Menurutmu dia sudah bosan denganmu dan sudah menemukan cewek lain yang lebih baik.

Kamu tidak akan mengampuni pacarmu itu kalau dia ketahuan selingkuh, katamu dengan wajah memerah karena emosi. Kemudian kamu melontarkan sumpah serapah untuk selingkuhannya yang menurutmu perempuan tidak baik. Berbagai macam kata-kata kotor pun keluar dari mulutmu.

Duh, sepertinya ini sudah kelewat batas. Aku harus menghubungi dia, pacarmu itu. Aku pun ijin ke kamar mandi untuk menelepon dia.

"Sayang, kita sudah hampir ketahuan." kataku sambil berbisik ditelepon. Ah, dalam hati yang terdalam aku merasa senang sekali. Dendamku 2 tahun yang lalu terbalas sudah.


----------------------batas imajinasi penulis, saatnya pembaca yang berpikir----------------------

 thanks for reading!
@deanovs

You Might Also Like

17 Comments

  1. bwakaka keren nih, ending nya ngetwist hahaa

    kalo ada waktu bisa main ke blog saya ya, ditunggu kritiknya hehe :D

    BalasHapus
  2. argh sumpah keren! njir gak nyangka ternyata itu kamu.

    BalasHapus
  3. Wuih, Biasanya kalo cerpen kebanyakan ada dialog percakapannya langsung, kalo cerpen yang ini ga langsung. Cerpennya keren lah, apalagi tentang selingkuh. haha :D

    BalasHapus
  4. yang diselingkuhin ternyata? Ah! wkwk. keren.

    BalasHapus
  5. dan ternyata.... unpredictable.. hehe. keren..

    BalasHapus
  6. ternyata yang selingkuuuuuuh... omg

    BalasHapus
  7. bagus sih cerpennya. ngetwist
    tapi gua juga pernah baca yang kayak gini di kumpulan cerpen. endingnya sama persis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pada dasarnya setiap karya baru adalah karya lama yang dimodifikasi. ditambahi, dikurangi, diubah setting/tokohnya, dan sebagainya. waktu mas baca cerpen ini, apa rasanya sama kayak waktu mas baca cerpen yg dulu pernah mas baca itu?
      karena yang membedakan 2 karya sastra yg mirip adalah karakter penulisnya, gaya kepenulisannya. dan--setidaknya menurutku--disitulah nilai sebuah karya sastra sebenernya :)

      daaaaaan bukan berarti cerpen ini hasil remake ya. ini aku bikin sendiri. alurnya aku ciptakan sendiri. bukan nggak mungkin kan kalo ada banyak org lain diluar sana yg terpikirkan alur yg sama? :D

      Hapus
  8. Dia yang dulu kamu bangga-banggakan itu ternyata selingkuh.
    waduh.. moga saya bukan tipikal cowo kaya gitu... hehe

    BalasHapus
  9. Alurnya dapet banget, suka! :) dan koreksi dikit nih atas tanda bacanya dibagian ("Sayang, kita sudah hampir ketahuan." kataku sambil berbisik ditelepon) tanda baca yang terakhir sebelum kutip seharusnya bukan titik tetapi tanda koma karena merupakan percakapan langsung, hehe. Semoga bisa membuat cerpen yang keren seperti ini terus ya :)

    BalasHapus
  10. kenapa persahabatan harus di nodai dengan pengkhianatan.

    BalasHapus
  11. jadi? itu? hah? ternyata? kamu? oke kita putus!!!
    begus nihh tulisannya.. tapi kenapa harus selingkuh ending sihh dee

    BalasHapus
  12. hahahha... gue gak menyangka ternyata seperti itu... keren ini... salut buat kamu...


    Pecinta Bola Gabung di Sini

    BalasHapus

Instagram