Tanda berakhirnya pelajaran sudah berbunyi dari lima belas menit yang lalu. Dengan cepat aku berlari keluar kelas, mataku tambah panas saja menatap semua kemunafikan ini. Biarlah, kutuntaskan dulu konflik internal dalam hati.
Dan sekarang, disinilah aku, menangis sendirian diparkiran sekolah. Di bawah pohon, berjongkok, dan terisak. Membuang semua yang menyesakkan hati. Tidak ada yang melarang, bukan?
“Hei!” sebuah suara anak laki-laki mengagetkanku, menarik diriku kembali dalam kenyataan. Keluar dari tangisan yang telah memelukku entah berapa lama. “Sedang apa disini?”
“A.. akuu…” jawabku terbata sambil mengusap cairan hangat yang keluar dari mata dan bercampur dengan lendir dari hidung, menciptakan sebuah komposisi asin yang mengalir tanpa sengaja menuju lidah.
Dan sekarang, disinilah aku, menangis sendirian diparkiran sekolah. Di bawah pohon, berjongkok, dan terisak. Membuang semua yang menyesakkan hati. Tidak ada yang melarang, bukan?
“Hei!” sebuah suara anak laki-laki mengagetkanku, menarik diriku kembali dalam kenyataan. Keluar dari tangisan yang telah memelukku entah berapa lama. “Sedang apa disini?”
“A.. akuu…” jawabku terbata sambil mengusap cairan hangat yang keluar dari mata dan bercampur dengan lendir dari hidung, menciptakan sebuah komposisi asin yang mengalir tanpa sengaja menuju lidah.
Alkisah nih, tadi siang pulang sekolah di angkutan umum, kukira there is nothing special cause aku pulang sendiri *ditinggal temen-temen*. Ternyata waktu duduk diangkutan yang sepi itu ada seorang ibu muda yang nyapa aku. Hoo .. Siapa ya?
Yak, dan kemudian si ibu ngomong basa-basi sebentar tentang ‘Rumah adek dimana?’, ‘Adek sekolah dimana?’, ‘Kelas berapa?’, dan seterusnya hingga pembicaraan kami terdampar di topik tentang SMA diawali dengan si Ibu yang bertanya ‘Mau ngelanjutin sekolah dimana dek?’. Aku pun menjawab nama sebuah sekoah favorit di Kota Malang, nggak disangka si Ibu malah menawarkan sebuah sekolah swasta kristen di Kota Malang. Sebenernya aku lumayan akrab juga sama nama sekolah itu karena ya memang itu one of favourite school di Malang. Tapi ... gimana yah buuuu ... saya ini muslim gitu masalahnya ...
Dan ditengah kebingunganku menjawab pertanyaan si Ibu, si Ibu malah membicarakan hal lain dan akhirnya fiuuuh .. aku gak perlu njawab pertanyaan tadi itu .. hehe
Masalahnya sekarang, kenapa Ibu tadi bisa ngira aku nonis (non islam) ya? Dan si Ibu tadi bukan satu-satunya yang ngira aku nonis. Waktu pertama kali aku masuk SMP, temen-temen baruku ngira nonis karena mukaku mirip Chinese. Waktu hari pertama duduk di kelas les, semua ngira aku nonis. Sedangkan di tempat les yang lain, semua shock waktu ngeliat aku pake jilbab. *wuuuuuuus*
Padahal kata ayah-ibuku, nggak ada darah cina dipohon keluarga mereka. Jadi, aku ini anak siapa?
Yak, dan kemudian si ibu ngomong basa-basi sebentar tentang ‘Rumah adek dimana?’, ‘Adek sekolah dimana?’, ‘Kelas berapa?’, dan seterusnya hingga pembicaraan kami terdampar di topik tentang SMA diawali dengan si Ibu yang bertanya ‘Mau ngelanjutin sekolah dimana dek?’. Aku pun menjawab nama sebuah sekoah favorit di Kota Malang, nggak disangka si Ibu malah menawarkan sebuah sekolah swasta kristen di Kota Malang. Sebenernya aku lumayan akrab juga sama nama sekolah itu karena ya memang itu one of favourite school di Malang. Tapi ... gimana yah buuuu ... saya ini muslim gitu masalahnya ...
Dan ditengah kebingunganku menjawab pertanyaan si Ibu, si Ibu malah membicarakan hal lain dan akhirnya fiuuuh .. aku gak perlu njawab pertanyaan tadi itu .. hehe
Masalahnya sekarang, kenapa Ibu tadi bisa ngira aku nonis (non islam) ya? Dan si Ibu tadi bukan satu-satunya yang ngira aku nonis. Waktu pertama kali aku masuk SMP, temen-temen baruku ngira nonis karena mukaku mirip Chinese. Waktu hari pertama duduk di kelas les, semua ngira aku nonis. Sedangkan di tempat les yang lain, semua shock waktu ngeliat aku pake jilbab. *wuuuuuuus*
Padahal kata ayah-ibuku, nggak ada darah cina dipohon keluarga mereka. Jadi, aku ini anak siapa?


